Minggu, 29 April 2018

Studi Kitab Tafsir (Pesan-Pesan al-Qur'an Karya : Djohan Effendi)

Pesan-Pesan al-Qur'an Karya: Djohan Effendi
PESAN PESAN AL-QUR’AN KARYA : DJOHAN EFFENDI
Mencoba Mengerti Intisari Kitab Suci
Oleh : M. Rasyid Ridha (1601422240)

PENDAHULUAN
            Al-Qur’an merupakan kalamullah dan kitab suci umat Islam, barangsiapa yang berpegang kepadanya dan menjadikannya sebagai pedoman hidup maka akan selamat di dunia dan akhirat. Maka dari itu, sangatlah penting bagi kita untuk mengetahui apa yang ada dalam al-Qur’an tersebut. Upaya dalam memahami al-Quran dikenal dengan istilah tafsir. Seiring  berjalannya waktu pemahaman terhadapal-Qur’an atau tafsir al-Qur’an mengalami perkembangan yang pesat. Hal ini ditunjukkan dengan munculnya berbagai macam karya tafsir dengan beragam metode dan corak. Meski demikian, aktivitas menafsirkan al-Quran bukanlah pekerjaan yang mudah, mengingat kompleksitas persoalan yang dikandungnya serta kerumitan yang digunakannya. Dalam kaitan ini, dapat dikemukakan bahwa redaksi ayat-ayat al-Quran, sebagaimana setiap redaksi yang diucapkan atau ditulis, tidak dapat dijangkau maksudnya secara pasti kecuali oleh pemilik redaksi tersebut, yakni Allah swt.[1]
Salah satu dari penafsir tersebut ialah Djohan Effendi dengan karyanya : Pesan-Pesan Al-Qur’an : Mencoba Mengerti Intisari Kitab Suci, sesuai dengan namanya, Djohan mencoba merekam pemahaman terhadap al-Qur’an menangkap dan menerjemahkannya pesan-pesan-Nya dengan berbekal ilmu dan pengalaman yang ia miliki secara lebih tepat dalam artian belum tentu benar-benar tepat. Kata beliau : pemahaman yang saya sampaikan jauh dari lengkap bersifat subjektif, relatif, dan tidak final. Kegiatan ini merupakan usaha menangkap pesan-pesan al-Qur’an sebagai bagian proses pencarian yang tidak berujung. Bagaikan hubungan objek dan subjek yang tak pernah berhenti. Bagian dari pergumulan seorang thâlib dan sâlik, pencari dan pejalan, yang berharap pencarian dan perjalanan hidupnya ditutup oleh embusan nafas terakhir dengan ucapan : lâ ilâha illallâh.[2]


PEMBAHASAN

A.    Biografi Penulis
Dr. Djohan Effendi lahir di Banjarmasin pada 1 oktober 1939, menyelesaikan pendidikan Sekolah Rakyat (6 tahun), sekolah Arab (3 tahun), dan PGAN (Pendidikan Guru Agama Negeri) 3 tahun di Banjarmasin dan PHIN (Pendidikan Hakim Islam Negeri) 3 tahun di Yogyakarta. Menyelesaikan studi perguruan tingginya di Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (lulus tahun 1969). Meraih gelar doktor di Australia Nasional Mensesneg RI untuk urusan keagamaan Islam, juga ahli peneliti utama di Litbang Departemen Agama RI.
Setelah Era Reformasi, ia dipercaya oleh Menteri Agama Malik Fadjar sebagai kepala Badan Litbang Departemen Agama RI (1998-2000). Kemudian oleh Presiden Abdurrahman wahid dia dipercaya sebagai Sekretaris Negara RI (2000-2001). Selain tulisan di berbagai media massa dan jurnal ilmiah, di antara bukunya yang sudah terbit: Agama dan Masa Depan, Agama dan Pembangunan, dan Muhammad : Nabi dan Negarawan.[3]
Adapun pendapat dari Greg Barton, ia mengatakan bahwa Djohan dilahirkan di Kandangan, Kalimantan Selatan, pada tanggal 1 Oktober 1939. Ia adalah anak tertua dari pasangan H. Mulkani dan Hj. Siti Hadijah. ia memiliki empat orang anak, seorang perempuan bernama Mahrita, dan tiga orang lelaki bernama Syacrani (meninggal saat masih kecil), Muhammad Ridwan, dan Anwari.[4]
Kecendekiawan Djohan diakui oleh Greg Barton. Dalam disertasinya di Monash University, Australia, Barton menyejajarkan Djohan dengan Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid, dan Ahmad Wahib sebagai sesama pemikir neo-modernis Islam. Sosoknya memang terbuka, dan itu sudah berakar pada dirinya sejak kecil. Selain mengaji Al-Quran, Djohan kecil juga rajin membaca biografi tokoh dunia. Ketekunan menyimak buku itu diwariskan ibunya yang, sekalipun pedagang kecil, rajin membaca. Setelah menamatkan pendidikan dasarnya, atas biaya ikatan dinas pemerintah, Djohan melanjutkan ke Pendidikan Guru Agama (PGA) di Banjarmasin.[5]Setelah itu, Djohan melanjutkan studi ke Pendidikan Hakim Islam Negeri (PHIN) Yogyakarta. [6]
Semasa studi di sini, ia mempelajari filsafat, terutama polemik antara al-Ghazali dan Ibn Rusyd. Ia gemar mempelajari isu-isu teologis dan filosofis yang kontroversial, seperti tentang keabadian alam, takdir dan kebebasan manusia. Kegemarannya mendalami persoalan ini sempat menyebabkannya bimbang yang hampir menggoyahkan keimanan. Dalam situasi ini, ia malah mempelajari juga tentang Ahmadiyah, di antaranya melalui karya Muhammad Ali. Bahkan, ia sempat bertemu dengan dua orang tokoh Ahmadiyah Lahore, yaitu Muhammad Irsjad dan Ahmad Djojosugito. Ia tertarik dengan Ahmadiyah, karena model interpretasi rasional dan spiritualistik yang dikembangkan kelompok keagamaan ini.[7]
Pendidikan perguruan tinggi di perolehnya di Jurusan Tafsir Hadits pada Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan ia lulus pada 1969. Dari sinilah, Djohan memperoleh pendidikan secara formal berkaitan dengan tafsir al-Qur’an. Di samping itu, ia juga memperoleh pengetahuan tentang tafsir dari pendidikan non-formal. Diantara guru-guru yang secara langsung maupun tidak langsung ia banyak belajar dalam memahami kandungan al-Qur’an. Yaitu : K. H. Dalhar, K. H. Ahmad Basyir, Prof. Hasbi Ash-Shiddiqie, Prof. Mochtar Jahja, Bapak Muhammad Irshad, dan khususnya Ustadz Muchtar Luthfi al-Anshary, selaku ketua Tim Peneliti Terjemahan H.B. Jassin : al-Qur’an Bacaan Mulia, kepada beliau ia banyak belajar.
Selama 3 tahun ia mendampingi Ustadz Muchtar Luthfi selaku sekretaris Tim Peneliti Terjemah H. B. Jassin : al-Qur’an Bacaan Mulia. Djohan membaca ayat demi ayat sambil mendiskusikan terjemahannya, dan kegiatan ini diulang sebanyak tiga kali. Pengetahuan yang didukung oleh penghayatan beliau (Ust. Muchtar) sebagai penutur bahasa Arab, dan kecermatan beliau dalam mengkritisi berbagai terjemahan dan tafsir al-Qur’an, meninggalkan kesan yang mendalam pada diri Djohan.[8]
Selama menjadi mahasiswa ia juga pernah mengikuti kegiatan HMI (Himpunan Mahasiswa Indonesia). Sejak tahun 1993, ia menjadi ahli peneliti utama di Litbang agama kementrian Agama RI. Pada tahun 1995, ia melanjutkan studi di program doktor di Australian National University (Anu), dan merampungkannya pada tahun 2001. Ia juga pernah menjadi staf khusus Sekretaris negara sebagai penulis pidato presiden soeharto dan diangkat juga sebagai sekretaris negara di era Presiden Abdurrahman Wahid.
Djohan memberikan perhatian serius terhadap persoalan penafsiran al-Qur’an bukan hanya karena ia pernah kuliah jurusan Tafsir Hadis di IAIN Sunan Kalijaga, melainkan karena ia juga aktivis yang terlibat dalam diskusi-diskusi intensif. Ia juga terlibat aktif dalam diskusi-diskusi seputar isu-isu keislaman, termasuk tafsir al-Qur’an, bersama kolega-kolega, seperti M. Dawam Rahardjo. Diskusi-diskusi juga dilakukan bersama pemerhati kajian-kajian al-Qur’an dari kalangan muda seperti Taufik Adnan Amal dan Syamsu Rizal Penggabean. Karya kedua orang yang disebut terakhir ini, Tafsir Kontekstual al-Qur’an, sebelumnya diterbitkan, didiskusikan bersama Djohan di Jakarta. [9]
B.     Gambaran Umum
Kitab/buku ini dinamai dengan “PESAN-PESAN AL-QUR’AN Mencoba Mengerti Intisari Kitab Suci” berjumlah 1 Jilid berisikan 544 Halaman. Ia  memaparkan pemahamannya terhadap ke 114 surah Alquran. Semua tersusun dalam sebuah mushaf yang terkodifikasi dan terstruktur secara sistematis dan menarik. Ke 114 surah itu, ia bagi ke dalam tiga bagian, yakni pembukaan, batang tubuh, dan penutup. Surah Al Fâtiḥah yang berarti pembukaan berfungsi sebagai prolog, sedangkan tiga surah pendek terakhir, surah Al Ikhlâsh, Al Falaq, dan Al Nâs berfungsi sebagai epilog. Selebihnya, 110 surah dari Al Baqarah hingga Al Masad atau Al Lahab merupakan batang tubuhnya.[10]
Bagi Djohan sendiri, susunan surah tersebut bisa dipahami dari segi nalar sebagai susunan yang sistematis dan logis antar surah dari kesinambungan seperti inilah yang membawa ia kepada pendapat Bahwa al-Qur’an memiliki sistematika yang apik yang bisa dibedakan antara pembukaan, batang tubuh, dan penutup. Kemudian jika dilihat dari kronologi turunnya, ia mengikuti kronologi turunnya al-Qur’an yang dikatakannya disusun oleh sebagian ulama, menjadi enam periode, yaitu : periode makkah awal, makkah pertengahan, dan makkah akhir, periode madinah awal, madinah pertengahan, dan madinah akhir.[11]
Di kalangan para ulama upaya untuk mengaitkan secara rasional antara ayat maupun  surah secara rasional ditempuh melalui kajian korelasi (munasabah). Upaya ini sebenarnya tidaklah mudah, karena upaya mencari hubungan logis antar suarh lebih merupakan intellectual exercise, dan para ulama mengingatkan agar tidak terjadi upaya memaksakan (takalluf) dalam menjelaskan korelasi tersebut. Hal itu disebabkan oleh perbedaan antara susunan mushaf dan susunan kronologi turunnya al-Qur’an. Ditambah lagi dengan turunnya ayat-ayat tersebut dengan latar belakang yang berbeda. Tentu, tidaklah mudah untuk menjelaskan ayat-ayat berbeda latar belakang historisnya tersebut dalam sebuah sistematika yang logis.[12]
Ia mengawali pembahasan pada masing-masing surah dengan satu paragraf pengantar yang di dalamnya menjelaskan urutan surah ke berapa dan di kota mana surah tersebut diturunkan apakah di Mekah atau Madinah. Ia juga memberikan pandangannya terhadap sebab kenapa surah itu dinamakan seperti itu. Lalu ia menafsirkan surah-surah tersebut dengan tema-tema tertentu. Kemudian pada akhir tiap surah sebuah puisi yang menjadi semacam rangkuman dari tema-tema atau menjadi puisi atas salah satu tema pada surah tersebut.
Di bagian akhir buku ada dua lampiran ditambahkan. Lampiran 1 memuat 5 tulisan, yakni (1) Penyempurnaan Diri Insan dalam Perspektif al-Qur’an (2) Takdir dan Kebebasan dalam Perspektif al-Qur’an (3) Pluralisme dalam Perspektif al-Qur’an (4) Kaum Mustadh’afin dalam Perspektif al-Qur’an (5) Qarunisme versus Quranisme. Kemudian lampiran 2 adalah terjemahan puitik juz 30.[13]

C.    Metode dan Corak Penafsiran
Seperti yang diketahui, ada empat metode tafsir yang diklasifikasikan yaitu metode taḥlilî, metode ijmalî, metode muqâran, dan metode maudhû’î. Adapun corak tafsir, yakni dari segi kecenderungan penafsir dalam menafsirkan al-Quran, maka dapat digolongkan menjadi beberapa corak, yaitu tafsir sufistik atau al shûfî, tafsir fiqhî, tafsir filosofis atau al falsafî, tafsir ilmiah atau al ‘ilmî, tafsir sosial kemasyarakatan atau tafsir al adab al ijtimâ’î, dan tafsir corak kombinasi, yaitu tafsir yang mengikuti dua atau lebih corak tafsir.
Adapun mengenai metode tafsir dan corak penafsiran Djohan Effendi dalam bukunya Pesan-Pesan Al Quran: Mencoba Mengerti Intisari Kitab Suci, penulis menyebutkan di belakang bukunya bahwa ia memadukan dua model tafsir yakni tafsir analitis (tahlili) dan tematis (Mawdhu’i). Namun, jika dilihat kecendrungannya maka dapat disimpulkan bahwa metode tafsir yang digunakan dalam buku tersebut adalah Metode Mawdhû’î. karena penafsiran yang dilakukan oleh Djohan tidak dilakukan pada semua ayat, namun hanya pada ayat tertentu saja. Kemudian ia memberikan judul tema pada kumpulan ayat tersebut. Sebagai contoh, penafsirannya pada surah al-Baqarah, ia tidak mencantumkan dan tidak menafsirakan ayat yang berkaitan dengan Qishash, namun ia hanya menafsirkan ayat-ayat yang ia pilih.
Sedang sumber tafsirnya adalah tafsîr bi al ra’y, dengan cenderung mengikuti corak sosial kemasyarakatan dan sesekali mengikuti corak tashawwuf dan filsafat. Sebagai contoh untu menjelaskan coraknya, pada surah Al Baqarah, ia membuat judul tema penafsirannya dengan judul “Kecaman terhadap Eksklusivisme”,[14] ada pula “Membangun Umat Berkualitas”.[15] Adapun penafsirannya yang bercorak tashawuf, seperti judul salah satu tema di surah Fathir, “Shalat: Sarana Peningkatan Ruhani”,[16] dan corak filsafat, seperti salah satu tema di surah Al Hajj, “Ibadah Haji: Simbol Persatuan dan Persamaan”.[17]

D.     Contoh Penafsiran
Ada beberapa tema yang Ia kemukakan dalam surah al-Baqarah. Salah satu tema dan sekaligus yang pertama Ia kemukakan Dalam surah tersebut yaitu :
Al-Qur’an : Kitab Hidayah
Pesan pertama surah al-Baqarah menegaskan bahwa al-Qur’an adalah kitab yang tak mengandung keraguan sedikit pun. Di dalamnya terkandung petunjuk bagi orang-orang yang ingin mencapai derajat muttaqin, yakni orang-orang yang mampu memelihara diri dari perilaku yang menyebabkan noda dan dosa, mematuhi perintah dan larangan Tuhan. Penegasan ini bagaikan jawaban terhadap doa kaum muslimin yang memohon agar ditunjuki jalan lurus sebagaimana yang tertera dalam surah al-Fatihah yang diucapkan oleh umat Islam setiap hari ketika melakukan shalat : “Tunjukilah kami jalan lurus, jalan orang-orang yang Engkau anugerahi nikmat, bukan jalan orang-orang yang ditimpa kemurkaan dan bukan pula jalan orang-orang yang tersesat,”[18]
Kemudian salah satu puisi dalam kitab tersebut contohnya dalam Surat ath-Thalaq
Rumah Tangga
Suami istri bukan pasangan sembarangan
Terikat oleh janji suci sehidup-semati
Dipateri atas nama Ilahi
Membangun rumah tangga damai dan harmoni
Hilangkan kata cerai dalam kamus hidup suami-istri
Yang mengguncangkan Arsy di langit tinggi
Tindakan boleh yang dibenci Ilahi
Suburkan cinta dalam keluarga
Membuat rumah tangga bayangan surga di bumi
Hidup bersama diliputi berkah ilahi.[19]

E.     Kelebihan dan Kekurangan Pesan-Pesan al-Qur’an
Kelebihannya antara lain:
Pertama, yaitu berhasilnya Djohan Effendi dalam memberitahukan pemahamannya terhadap keseluruhan 30 juz Alquran. Walaupun pemaparannya tidak sepenuhnya membahas ayat dalam Alquran satu per satu, akan tetapi usaha Djohan dalam memberikan pandangan terhadap masing-masing surah dalam al-Quran patut untuk diberikan apresiasi.
Kedua, yaitu selain memaparkan pemahamannya, Djohan mengawali pembahasan pada masing-masing surah dengan satu paragraf pengantar yang di dalamnya, Djohan menjelaskan urutan surah ke berapa dan di kota mana surah tersebut diturunkan apakah di Mekah atau Madinah. Ia juga memberikan pandangannya terhadap sebab kenapa surah itu dinamakan seperti itu. Perbedaan pengantar yang disampaikan oleh Djohan Effendi dengan pengantar pada kitab-kitab atau buku-buku tafsir yang lain, adalah Djohan menjelaskan pengantarnya dengan jelas, padat, dan singkat. Hal ini memungkinkan para pembacanya dengan mudah dapat langsung memahami dan mengetahui makna dari surah dan nama surah tersebut.
ketiga, yaitu ia menyelipkan pada akhir tiap surah sebuah puisi yang menjadi semacam rangkuman dari tema-tema atau menjadi puisi atas salah satu tema pada surah tersebut.

Sedangkan kekurangannya yaitu :
Pertama, karena buku ini dibuat hanya dalam satu jilid saja dan satu itu pun hanya berisikan 544 halaman, maka pembahasannya terhadap Alquran dirasa kurang menyeluruh membahas per ayat di dalamnya. Sehingga Djohan hanya memaparkan pandangannya terhadap ayat-ayat yang ia pilih.
kedua, adalah Djohan tidak mengutipkan ayat-ayat yang menjadi inti tema-tema yang ia bahas dalam bukunya itu. Sehingga dalam buku itu tidak ada satu pun ayat-ayat Alquran atau tulisan Arab yang tercantum. Kecuali hanya beberapa ilustrasi kaligrafi Arab yang disisipkan sebagai hiasan dan mengisi ruang kosong dari halaman dalam buku itu.
ketiga, adalah Djohan Effendi tidak memberikan informasi dari mana ia mengutip pendapatnya atau siapa tokoh yang menjadi patokan-patokan atau gurunya dalam memberikan pandangannya dalam isi buku secara jelas. Walaupun demikian pada pengantar buku ini, Djohan memberikan ucapan terima kasih kepada guru-gurunya yang secara langsung atau tidak langsung ia banyak belajar dari mereka dalam memahami kandungan Alquran.[20]


PENUTUP

Dr. Djohan Effendi dilahirkan di Kandangan, Kalimantan Selatan, pada tanggal 1 Oktober 1939. Ia menulis sebuah buku yang berjudul Pesan-Pesan Al Quran: Mencoba Mengerti Intisari Kitab Suci, (2012) ini merupakan karya yang monumentalnya di mana semua orientasi pemikirannya tercermin jelas halaman ke halaman karya ini.
Ia  memaparkan pemahamannya terhadap ke 114 surah al-Qur’an. Semua tersusun dalam sebuah mushaf yang terkodifikasi dan terstruktur secara sistematis dan menarik. Ke 114 surah itu, ia bagi ke dalam tiga bagian, yakni pembukaan, batang tubuh, dan penutup. Ia mengawali pembahasan pada masing-masing surah dengan satu paragraf pengantar. Lalu ia menafsirkan surah-surah tersebut dengan tema-tema tertentu. Kemudian ditutup dengan sebuah puisi terkait dengan salah satu tema pada surah tersebut. Di bagian akhir bukunya ada dua lampiran ditambahkan.
Keberhasilan Djohan dalam memberitahukan pemahamannya terhadap 30 juz al-Qur’an serta menghubungkan secara sistematis dan logis baik dari segi urutan mushafnya maupun kronologinya patut untuk diberikan apresiasi. Namun sayangnya, ia tidak memberikan informasi yang jelas dari mana ia mengutip pendapatnya atau siapa tokoh yang menjadi patokan-patokan atau gurunya dalam memberikan pandangannya dalam isi buku tersebut serta tidak mengutipkan ayat-ayat yang menjadi inti tema-tema yang ia bahas dalam bukunya itu. Sehingga dalam buku itu tidak ada satu pun ayat-ayat Alquran atau tulisan Arab yang tercantum, kecuali hanya beberapa ilustrasi kaligrafi Arab.


               DAFTAR PUSTAKA

Effendi, Djohan. Pesan-Pesan Al-Qur’an : Mencoba Mengerti Intisari Kitab Suci. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2012.
Monady, Hanief. PDF Pesan-Pesan Al-Qur’an..
Suryadilaga, M. Alfatih, dkk. Metodologi Ilmu Tafsir, Yogyakarta: TERAS, 2010.
Wardani, dkk. “Perkembangan Pemikiran Tentang Metodologi Tafsir al-Quran di Indonesia di Era Kontemporer” Penelitian (Banjarmasin: 2015),
Wardani. Metodologi Tafsir al-Qur’an di Indonesia. Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta, 2017.


[1] M. Alfatih Suryadilaga, dkk, Metodologi Ilmu Tafsir (Yogyakarta: TERAS, 2010), 39-40.
[2] Djohan Effendi, Pesan-Pesan Al-Qur’an : Mencoba Mengerti Intisari Kitab Suci, (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2012) 17.
[3] Djohan Effendi, Pesan-Pesan Al-Qur’an......., 5.
[4] Hanief Monady, PDF Pesan-Pesan Al-Qur’an, 3. Lihat Juga Greg Barton, Gagasan Islam Liberal di Indonesia: Pemikiran Neo-Modernisme Nurchalis Madjid, Djohan Effendi, Ahmad Wahib, dan Abdurrahman Wahid, (Jakarta: Paramadina dan Pustaka Antara, 1999), hal. 175.
[5] Hanief Monady, PDF....., 3. Lihat Juga Ahmad Gaus. AF, Sang Pelintas Batas: Biografi Djohan Effendi, (Jakarta: Kompas, 2009), 26.
[6] Hanief Monady, PDF....., 3. Lihat Juga Greg Barton, Gagasan Islam Liberal di Indonesia......, 176.
[7] Wardani Metodologi Tafsir al-Qur’an di Indonesia, (Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta, 2017), 96.
[8] Djohan Effendi, Pesan-Pesan Al-Qur’an......., 25.
[9] Wardani Metodologi Tafsir al-Qur’an di Indonesia......., 98-99. Lihat juga Taufik Adnan Amal dan Syamsu Rizal Penggabean, Tafsir Kontekstual al-Qur’an : Sebuah Kerangka Konseptual (Bandung : Mizan, 1989), 9.
[10] Djohan Effendi, Pesan-Pesan Al-Qur’an........, 32.
[11] Djohan Effendi, Pesan-Pesan Al-Qur’an........, 29.
[12] Wardani dkk. “Perkembangan Pemikiran Tentang Metodologi Tafsir al-Quran di Indonesia di Era Kontemporer” Penelitian (Banjarmasin: 2015), 142-143.
[13] Djohan Effendi, Pesan-Pesan Al-Qur’an........, 25-26.
[14] Djohan Effendi, Pesan-Pesan Al-Quran.........,57.
[15] Djohan Effendi, Pesan-Pesan Al-Quran......., 60.
[16] Djohan Effendi, Pesan-Pesan Al-Quran......., 216.
[17] Djohan Effendi, Pesan-Pesan Al-Quran......., 163.
[18] Djohan Effendi, Pesan-Pesan Al-Qur’an......, 53.
[19] Djohan Effendi, Pesan-Pesan Al-Qur’an......., 315.
[20] Hanief Monady,  PDF Pesan-Pesan Al-Qur’an......., 28-32.