PESAN PESAN
AL-QUR’AN KARYA : DJOHAN EFFENDI
Mencoba
Mengerti Intisari Kitab Suci
Oleh : M.
Rasyid Ridha (1601422240)
PENDAHULUAN
Al-Qur’an
merupakan kalamullah dan kitab suci umat Islam, barangsiapa yang berpegang
kepadanya dan menjadikannya sebagai pedoman hidup maka akan selamat di dunia
dan akhirat. Maka dari itu, sangatlah penting bagi kita untuk mengetahui apa
yang ada dalam al-Qur’an tersebut. Upaya dalam memahami al-Quran dikenal dengan
istilah tafsir. Seiring
berjalannya waktu pemahaman terhadapal-Qur’an atau tafsir al-Qur’an
mengalami perkembangan yang pesat. Hal ini ditunjukkan dengan munculnya
berbagai macam karya tafsir dengan beragam metode dan corak. Meski demikian, aktivitas
menafsirkan al-Quran bukanlah pekerjaan yang mudah, mengingat kompleksitas
persoalan yang dikandungnya serta kerumitan yang digunakannya. Dalam kaitan
ini, dapat dikemukakan bahwa redaksi ayat-ayat al-Quran, sebagaimana setiap
redaksi yang diucapkan atau ditulis, tidak dapat dijangkau maksudnya secara
pasti kecuali oleh pemilik redaksi tersebut, yakni Allah swt.[1]
Salah satu dari penafsir tersebut ialah Djohan
Effendi dengan karyanya : Pesan-Pesan
Al-Qur’an : Mencoba Mengerti Intisari Kitab Suci, sesuai dengan namanya, Djohan mencoba merekam pemahaman terhadap
al-Qur’an menangkap dan menerjemahkannya pesan-pesan-Nya dengan berbekal ilmu
dan pengalaman yang ia miliki secara lebih tepat dalam artian belum
tentu benar-benar tepat. Kata beliau : pemahaman yang saya sampaikan jauh dari
lengkap bersifat subjektif, relatif, dan tidak final. Kegiatan ini merupakan
usaha menangkap pesan-pesan al-Qur’an sebagai bagian proses pencarian yang
tidak berujung. Bagaikan hubungan objek dan subjek yang tak pernah berhenti.
Bagian dari pergumulan seorang thâlib dan sâlik, pencari dan
pejalan, yang berharap pencarian dan perjalanan hidupnya ditutup oleh embusan
nafas terakhir dengan ucapan : lâ ilâha illallâh.[2]
PEMBAHASAN
A.
Biografi Penulis
Dr. Djohan Effendi lahir di Banjarmasin pada 1 oktober 1939,
menyelesaikan pendidikan Sekolah Rakyat (6 tahun), sekolah Arab (3 tahun), dan
PGAN (Pendidikan Guru Agama Negeri) 3 tahun di Banjarmasin dan PHIN (Pendidikan
Hakim Islam Negeri) 3 tahun di Yogyakarta. Menyelesaikan studi perguruan
tingginya di Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (lulus tahun
1969). Meraih gelar doktor di Australia Nasional Mensesneg RI untuk urusan
keagamaan Islam, juga ahli peneliti utama di Litbang Departemen Agama RI.
Setelah Era Reformasi, ia dipercaya oleh Menteri Agama Malik Fadjar
sebagai kepala Badan Litbang Departemen Agama RI (1998-2000). Kemudian oleh
Presiden Abdurrahman wahid dia dipercaya sebagai Sekretaris Negara RI
(2000-2001). Selain tulisan di berbagai media massa dan jurnal ilmiah, di
antara bukunya yang sudah terbit: Agama dan Masa Depan, Agama dan
Pembangunan, dan Muhammad : Nabi dan Negarawan.[3]
Adapun
pendapat dari Greg Barton, ia mengatakan bahwa Djohan dilahirkan di Kandangan,
Kalimantan Selatan, pada tanggal 1 Oktober 1939. Ia adalah anak tertua dari
pasangan H. Mulkani dan Hj. Siti Hadijah. ia memiliki empat orang anak, seorang
perempuan bernama Mahrita, dan tiga orang lelaki bernama Syacrani (meninggal
saat masih kecil), Muhammad Ridwan, dan Anwari.[4]
Kecendekiawan
Djohan diakui oleh Greg Barton. Dalam disertasinya di Monash University,
Australia, Barton menyejajarkan Djohan dengan Nurcholish Madjid, Abdurrahman
Wahid, dan Ahmad Wahib sebagai sesama pemikir neo-modernis Islam. Sosoknya
memang terbuka, dan itu sudah berakar pada dirinya sejak kecil. Selain mengaji
Al-Quran, Djohan kecil juga rajin membaca biografi tokoh dunia. Ketekunan
menyimak buku itu diwariskan ibunya yang, sekalipun pedagang kecil, rajin
membaca. Setelah menamatkan pendidikan dasarnya, atas biaya ikatan dinas pemerintah,
Djohan melanjutkan ke Pendidikan Guru Agama (PGA) di Banjarmasin.[5]Setelah
itu, Djohan melanjutkan studi ke Pendidikan Hakim Islam Negeri (PHIN) Yogyakarta. [6]
Semasa
studi di sini, ia mempelajari filsafat, terutama polemik antara al-Ghazali dan
Ibn Rusyd. Ia gemar mempelajari isu-isu teologis dan filosofis yang kontroversial,
seperti tentang keabadian alam, takdir dan kebebasan manusia. Kegemarannya
mendalami persoalan ini sempat menyebabkannya bimbang yang hampir menggoyahkan
keimanan. Dalam situasi ini, ia malah mempelajari juga tentang Ahmadiyah, di
antaranya melalui karya Muhammad Ali. Bahkan, ia sempat bertemu dengan dua
orang tokoh Ahmadiyah Lahore, yaitu Muhammad Irsjad dan Ahmad Djojosugito. Ia
tertarik dengan Ahmadiyah, karena model interpretasi rasional dan
spiritualistik yang dikembangkan kelompok keagamaan ini.[7]
Pendidikan perguruan tinggi di perolehnya di Jurusan Tafsir Hadits
pada Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan ia lulus pada 1969.
Dari sinilah, Djohan memperoleh pendidikan secara formal berkaitan dengan
tafsir al-Qur’an. Di samping itu, ia juga memperoleh pengetahuan tentang tafsir
dari pendidikan non-formal. Diantara guru-guru yang secara langsung maupun
tidak langsung ia banyak belajar dalam memahami kandungan al-Qur’an. Yaitu : K.
H. Dalhar, K. H. Ahmad Basyir, Prof. Hasbi Ash-Shiddiqie, Prof. Mochtar Jahja,
Bapak Muhammad Irshad, dan khususnya Ustadz Muchtar Luthfi al-Anshary, selaku
ketua Tim Peneliti Terjemahan H.B. Jassin : al-Qur’an Bacaan Mulia, kepada beliau
ia banyak belajar.
Selama 3 tahun ia mendampingi Ustadz Muchtar Luthfi selaku
sekretaris Tim Peneliti Terjemah H. B. Jassin : al-Qur’an Bacaan Mulia. Djohan membaca
ayat demi ayat sambil mendiskusikan terjemahannya, dan kegiatan ini diulang
sebanyak tiga kali. Pengetahuan yang didukung oleh penghayatan beliau (Ust. Muchtar)
sebagai penutur bahasa Arab, dan kecermatan beliau dalam mengkritisi berbagai terjemahan
dan tafsir al-Qur’an, meninggalkan kesan yang mendalam pada diri Djohan.[8]
Selama menjadi mahasiswa ia juga pernah mengikuti kegiatan HMI
(Himpunan Mahasiswa Indonesia). Sejak tahun 1993, ia menjadi ahli peneliti
utama di Litbang agama kementrian Agama RI. Pada tahun 1995, ia melanjutkan
studi di program doktor di Australian National University (Anu), dan
merampungkannya pada tahun 2001. Ia juga pernah menjadi staf khusus Sekretaris
negara sebagai penulis pidato presiden soeharto dan diangkat juga sebagai
sekretaris negara di era Presiden Abdurrahman Wahid.
Djohan memberikan perhatian serius terhadap persoalan penafsiran
al-Qur’an bukan hanya karena ia pernah kuliah jurusan Tafsir Hadis di IAIN
Sunan Kalijaga, melainkan karena ia juga aktivis yang terlibat dalam
diskusi-diskusi intensif. Ia juga terlibat aktif dalam diskusi-diskusi seputar
isu-isu keislaman, termasuk tafsir al-Qur’an, bersama kolega-kolega, seperti M.
Dawam Rahardjo. Diskusi-diskusi juga dilakukan bersama pemerhati kajian-kajian
al-Qur’an dari kalangan muda seperti Taufik Adnan Amal dan Syamsu Rizal
Penggabean. Karya kedua orang yang disebut terakhir ini, Tafsir Kontekstual
al-Qur’an, sebelumnya diterbitkan, didiskusikan bersama Djohan di Jakarta. [9]
B.
Gambaran Umum
Kitab/buku ini dinamai dengan “PESAN-PESAN AL-QUR’AN Mencoba
Mengerti Intisari Kitab Suci” berjumlah 1 Jilid berisikan 544 Halaman. Ia memaparkan pemahamannya terhadap ke 114 surah
Alquran. Semua tersusun dalam sebuah mushaf yang terkodifikasi dan terstruktur
secara sistematis dan menarik. Ke 114 surah itu, ia bagi ke dalam tiga bagian,
yakni pembukaan, batang tubuh, dan penutup. Surah Al Fâtiḥah yang berarti
pembukaan berfungsi sebagai prolog, sedangkan tiga surah pendek terakhir, surah
Al Ikhlâsh, Al Falaq, dan Al Nâs berfungsi sebagai epilog. Selebihnya, 110
surah dari Al Baqarah hingga Al Masad atau Al Lahab merupakan batang tubuhnya.[10]
Bagi Djohan sendiri, susunan surah tersebut bisa dipahami dari segi
nalar sebagai susunan yang sistematis dan logis antar surah dari kesinambungan
seperti inilah yang membawa ia kepada pendapat Bahwa al-Qur’an memiliki
sistematika yang apik yang bisa dibedakan antara pembukaan, batang tubuh, dan
penutup. Kemudian jika dilihat dari kronologi turunnya, ia mengikuti kronologi
turunnya al-Qur’an yang dikatakannya disusun oleh sebagian ulama, menjadi enam
periode, yaitu : periode makkah awal, makkah pertengahan, dan makkah akhir,
periode madinah awal, madinah pertengahan, dan madinah akhir.[11]
Di kalangan para ulama upaya untuk mengaitkan secara rasional
antara ayat maupun surah secara rasional
ditempuh melalui kajian korelasi (munasabah). Upaya ini sebenarnya tidaklah
mudah, karena upaya mencari hubungan logis antar suarh lebih merupakan intellectual
exercise, dan para ulama mengingatkan agar tidak terjadi upaya memaksakan
(takalluf) dalam menjelaskan korelasi tersebut. Hal itu disebabkan oleh
perbedaan antara susunan mushaf dan susunan kronologi turunnya al-Qur’an.
Ditambah lagi dengan turunnya ayat-ayat tersebut dengan latar belakang yang
berbeda. Tentu, tidaklah mudah untuk menjelaskan ayat-ayat berbeda latar
belakang historisnya tersebut dalam sebuah sistematika yang logis.[12]
Ia
mengawali pembahasan pada masing-masing surah dengan satu paragraf pengantar
yang di dalamnya menjelaskan urutan surah ke berapa dan di kota mana surah
tersebut diturunkan apakah di Mekah atau Madinah. Ia juga memberikan
pandangannya terhadap sebab kenapa surah itu dinamakan seperti itu. Lalu ia
menafsirkan surah-surah tersebut dengan tema-tema tertentu. Kemudian pada akhir
tiap surah sebuah puisi yang menjadi semacam rangkuman dari tema-tema atau
menjadi puisi atas salah satu tema pada surah tersebut.
Di bagian akhir buku ada dua
lampiran ditambahkan. Lampiran 1 memuat 5 tulisan, yakni (1) Penyempurnaan Diri
Insan dalam Perspektif al-Qur’an (2) Takdir dan Kebebasan dalam Perspektif
al-Qur’an (3) Pluralisme dalam Perspektif al-Qur’an (4) Kaum Mustadh’afin dalam
Perspektif al-Qur’an (5) Qarunisme versus Quranisme. Kemudian lampiran 2 adalah
terjemahan puitik juz 30.[13]
C.
Metode dan Corak Penafsiran
Seperti yang diketahui, ada empat
metode tafsir yang diklasifikasikan yaitu metode taḥlilî, metode ijmalî,
metode muqâran, dan metode maudhû’î. Adapun corak tafsir, yakni
dari segi kecenderungan penafsir dalam menafsirkan al-Quran, maka dapat
digolongkan menjadi beberapa corak, yaitu tafsir sufistik atau al shûfî,
tafsir fiqhî, tafsir filosofis atau al falsafî, tafsir ilmiah
atau al ‘ilmî, tafsir sosial kemasyarakatan atau tafsir al adab al
ijtimâ’î, dan tafsir corak kombinasi, yaitu tafsir yang mengikuti dua atau
lebih corak tafsir.
Adapun mengenai metode tafsir dan
corak penafsiran Djohan Effendi dalam bukunya Pesan-Pesan Al Quran: Mencoba
Mengerti Intisari Kitab Suci, penulis menyebutkan di belakang bukunya bahwa
ia memadukan dua model tafsir yakni tafsir analitis (tahlili) dan tematis
(Mawdhu’i). Namun, jika dilihat kecendrungannya maka dapat disimpulkan bahwa
metode tafsir yang digunakan dalam buku tersebut adalah Metode Mawdhû’î.
karena penafsiran yang dilakukan oleh Djohan tidak dilakukan pada semua ayat,
namun hanya pada ayat tertentu saja. Kemudian ia memberikan judul tema pada
kumpulan ayat tersebut. Sebagai contoh, penafsirannya pada surah al-Baqarah, ia
tidak mencantumkan dan tidak menafsirakan ayat yang berkaitan dengan Qishash,
namun ia hanya menafsirkan ayat-ayat yang ia pilih.
Sedang sumber tafsirnya adalah tafsîr
bi al ra’y, dengan cenderung mengikuti corak sosial kemasyarakatan dan sesekali
mengikuti corak tashawwuf dan filsafat. Sebagai contoh untu menjelaskan coraknya,
pada surah Al Baqarah, ia membuat judul tema penafsirannya dengan judul
“Kecaman terhadap Eksklusivisme”,[14] ada
pula “Membangun Umat Berkualitas”.[15]
Adapun penafsirannya yang bercorak tashawuf, seperti judul salah satu tema di
surah Fathir, “Shalat: Sarana Peningkatan Ruhani”,[16]
dan corak filsafat, seperti salah satu tema di surah Al Hajj, “Ibadah Haji:
Simbol Persatuan dan Persamaan”.[17]
D.
Contoh Penafsiran
Ada beberapa tema yang Ia kemukakan
dalam surah al-Baqarah. Salah satu tema dan sekaligus yang pertama Ia kemukakan
Dalam surah tersebut yaitu :
Al-Qur’an :
Kitab Hidayah
Pesan pertama surah al-Baqarah
menegaskan bahwa al-Qur’an adalah kitab yang tak mengandung keraguan sedikit
pun. Di dalamnya terkandung petunjuk bagi orang-orang yang ingin mencapai
derajat muttaqin, yakni orang-orang yang mampu memelihara diri dari perilaku
yang menyebabkan noda dan dosa, mematuhi perintah dan larangan Tuhan. Penegasan
ini bagaikan jawaban terhadap doa kaum muslimin yang memohon agar ditunjuki
jalan lurus sebagaimana yang tertera dalam surah al-Fatihah yang diucapkan oleh
umat Islam setiap hari ketika melakukan shalat : “Tunjukilah kami jalan
lurus, jalan orang-orang yang Engkau anugerahi nikmat, bukan jalan orang-orang
yang ditimpa kemurkaan dan bukan pula jalan orang-orang yang tersesat,”[18]
Kemudian salah satu puisi dalam
kitab tersebut contohnya dalam Surat ath-Thalaq
Rumah Tangga
Suami istri bukan pasangan sembarangan
Terikat oleh janji suci sehidup-semati
Dipateri atas nama Ilahi
Membangun rumah tangga damai dan harmoni
Hilangkan kata cerai dalam kamus hidup suami-istri
Yang mengguncangkan Arsy di langit tinggi
Tindakan boleh yang dibenci Ilahi
Suburkan cinta dalam keluarga
Membuat rumah tangga bayangan surga di bumi
Hidup bersama diliputi berkah ilahi.[19]
E.
Kelebihan dan Kekurangan Pesan-Pesan al-Qur’an
Kelebihannya antara lain:
Pertama,
yaitu berhasilnya Djohan Effendi dalam memberitahukan pemahamannya terhadap
keseluruhan 30 juz Alquran. Walaupun pemaparannya tidak sepenuhnya membahas
ayat dalam Alquran satu per satu, akan tetapi usaha Djohan dalam memberikan
pandangan terhadap masing-masing surah dalam al-Quran patut untuk diberikan
apresiasi.
Kedua, yaitu selain
memaparkan pemahamannya, Djohan mengawali pembahasan pada masing-masing surah
dengan satu paragraf pengantar yang di dalamnya, Djohan menjelaskan urutan
surah ke berapa dan di kota mana surah tersebut diturunkan apakah di Mekah atau
Madinah. Ia juga memberikan pandangannya terhadap sebab kenapa surah itu
dinamakan seperti itu. Perbedaan pengantar yang disampaikan oleh Djohan Effendi
dengan pengantar pada kitab-kitab atau buku-buku tafsir yang lain, adalah
Djohan menjelaskan pengantarnya dengan jelas, padat, dan singkat. Hal ini
memungkinkan para pembacanya dengan mudah dapat langsung memahami dan
mengetahui makna dari surah dan nama surah tersebut.
ketiga, yaitu ia
menyelipkan pada akhir tiap surah sebuah puisi yang menjadi semacam rangkuman
dari tema-tema atau menjadi puisi atas salah satu tema pada surah tersebut.
Sedangkan kekurangannya yaitu :
Pertama,
karena buku ini dibuat hanya dalam satu jilid saja dan satu itu pun hanya
berisikan 544 halaman, maka pembahasannya terhadap Alquran dirasa kurang
menyeluruh membahas per ayat di dalamnya. Sehingga Djohan hanya memaparkan
pandangannya terhadap ayat-ayat yang ia pilih.
kedua, adalah Djohan
tidak mengutipkan ayat-ayat yang menjadi inti tema-tema yang ia bahas dalam
bukunya itu. Sehingga dalam buku itu tidak ada satu pun ayat-ayat Alquran atau
tulisan Arab yang tercantum. Kecuali hanya beberapa ilustrasi kaligrafi Arab
yang disisipkan sebagai hiasan dan mengisi ruang kosong dari halaman dalam buku
itu.
ketiga, adalah Djohan
Effendi tidak memberikan informasi dari mana ia mengutip pendapatnya atau siapa
tokoh yang menjadi patokan-patokan atau gurunya dalam memberikan pandangannya
dalam isi buku secara jelas. Walaupun demikian pada pengantar buku ini, Djohan
memberikan ucapan terima kasih kepada guru-gurunya yang secara langsung atau
tidak langsung ia banyak belajar dari mereka dalam memahami kandungan Alquran.[20]
PENUTUP
Dr.
Djohan Effendi dilahirkan di Kandangan, Kalimantan Selatan, pada tanggal 1
Oktober 1939. Ia menulis sebuah buku yang berjudul Pesan-Pesan Al Quran: Mencoba Mengerti Intisari Kitab Suci, (2012) ini merupakan karya yang monumentalnya di mana semua
orientasi pemikirannya tercermin jelas halaman ke halaman karya ini.
Ia memaparkan pemahamannya terhadap ke 114 surah
al-Qur’an. Semua tersusun dalam sebuah mushaf yang terkodifikasi dan
terstruktur secara sistematis dan menarik. Ke 114 surah itu, ia bagi ke dalam
tiga bagian, yakni pembukaan, batang tubuh, dan penutup. Ia mengawali
pembahasan pada masing-masing surah dengan satu paragraf pengantar. Lalu ia
menafsirkan surah-surah tersebut dengan tema-tema tertentu. Kemudian ditutup
dengan sebuah puisi terkait dengan salah satu tema pada surah tersebut. Di bagian akhir bukunya ada dua lampiran ditambahkan.
Keberhasilan
Djohan dalam memberitahukan pemahamannya terhadap 30 juz al-Qur’an serta
menghubungkan secara sistematis dan logis baik dari segi urutan mushafnya
maupun kronologinya patut untuk diberikan apresiasi. Namun sayangnya, ia tidak
memberikan informasi yang jelas dari mana ia mengutip pendapatnya atau siapa
tokoh yang menjadi patokan-patokan atau gurunya dalam memberikan pandangannya
dalam isi buku tersebut serta tidak mengutipkan ayat-ayat yang menjadi inti
tema-tema yang ia bahas dalam bukunya itu. Sehingga dalam buku itu tidak ada
satu pun ayat-ayat Alquran atau tulisan Arab yang tercantum, kecuali hanya beberapa
ilustrasi kaligrafi Arab.
DAFTAR
PUSTAKA
Effendi,
Djohan. Pesan-Pesan Al-Qur’an : Mencoba Mengerti Intisari Kitab Suci. Jakarta:
Serambi Ilmu Semesta, 2012.
Monady, Hanief. PDF Pesan-Pesan Al-Qur’an..
Suryadilaga, M. Alfatih, dkk. Metodologi Ilmu Tafsir, Yogyakarta:
TERAS, 2010.
Wardani, dkk. “Perkembangan
Pemikiran Tentang Metodologi Tafsir al-Quran di Indonesia di Era Kontemporer”
Penelitian (Banjarmasin: 2015),
Wardani. Metodologi
Tafsir al-Qur’an di Indonesia. Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta, 2017.
[1] M. Alfatih Suryadilaga, dkk, Metodologi Ilmu Tafsir (Yogyakarta:
TERAS, 2010), 39-40.
[2] Djohan
Effendi, Pesan-Pesan Al-Qur’an : Mencoba Mengerti Intisari Kitab Suci, (Jakarta:
Serambi Ilmu Semesta, 2012) 17.
[3] Djohan
Effendi, Pesan-Pesan Al-Qur’an......., 5.
[4] Hanief Monady, PDF Pesan-Pesan Al-Qur’an, 3. Lihat
Juga Greg Barton, Gagasan Islam Liberal di Indonesia: Pemikiran
Neo-Modernisme Nurchalis Madjid, Djohan Effendi, Ahmad Wahib, dan Abdurrahman
Wahid, (Jakarta: Paramadina dan Pustaka Antara, 1999), hal. 175.
[5] Hanief Monady,
PDF....., 3. Lihat Juga Ahmad Gaus. AF, Sang Pelintas Batas: Biografi
Djohan Effendi, (Jakarta: Kompas, 2009), 26.
[6] Hanief Monady, PDF....., 3. Lihat Juga Greg Barton, Gagasan
Islam Liberal di Indonesia......, 176.
[7] Wardani Metodologi
Tafsir al-Qur’an di Indonesia, (Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta, 2017),
96.
[8] Djohan
Effendi, Pesan-Pesan Al-Qur’an......., 25.
[9] Wardani Metodologi
Tafsir al-Qur’an di Indonesia......., 98-99. Lihat juga Taufik Adnan Amal
dan Syamsu Rizal Penggabean, Tafsir Kontekstual al-Qur’an : Sebuah Kerangka
Konseptual (Bandung : Mizan, 1989), 9.
[10] Djohan
Effendi, Pesan-Pesan Al-Qur’an........, 32.
[11] Djohan
Effendi, Pesan-Pesan Al-Qur’an........, 29.
[12] Wardani dkk. “Perkembangan
Pemikiran Tentang Metodologi Tafsir al-Quran di Indonesia di Era Kontemporer”
Penelitian (Banjarmasin: 2015), 142-143.
[13]
Djohan Effendi,
Pesan-Pesan Al-Qur’an........, 25-26.
[14] Djohan Effendi, Pesan-Pesan Al-Quran.........,57.
[15] Djohan Effendi, Pesan-Pesan Al-Quran......., 60.
[16] Djohan Effendi, Pesan-Pesan Al-Quran......., 216.
[17] Djohan
Effendi, Pesan-Pesan Al-Quran......., 163.
[18] Djohan
Effendi, Pesan-Pesan Al-Qur’an......, 53.
[19] Djohan
Effendi, Pesan-Pesan Al-Qur’an......., 315.
[20] Hanief
Monady, PDF Pesan-Pesan Al-Qur’an.......,
28-32.